Bila Dua Langkah Ditulis untuk Satu Tujuan

 


Ada satu nama yang tidak disebut,
tapi selalu hadir di antara baris-baris doa yang tak terucap.
Namanya tidak tertulis di catatan harian,
tapi setiap geraknya hidup di antara jeda-jeda harap yang kutanam dalam diam.

Aku pernah belajar dari langit,
bahwa yang tinggi tak selalu jauh,
dan dari laut yang dalam,
bahwa yang tenang bisa saja menyimpan harap paling ribut.

Begitu pula dengan hati ini
yang tak pernah mengusikmu dengan tanya,
tapi selalu berlayar pelan menuju arah yang diam-diam kutahu,
kita pernah menatapnya dari tempat yang berbeda.

Mungkin kita seperti dua perahu,
yang mengarungi samudra tak bernama,
berharap angin membawa kita pada dermaga yang sama,
tanpa perlu saling memanggil.

Aku tak ingin memaksakan angin,
tak ingin menarik arah layar.
Aku hanya mengirim doa melalui desir angin subuh,
agar jika memang semesta merestui,
kita bertemu bukan karena saling mencari,
tetapi karena sama-sama sampai.

Jika nanti kau temukan jalan yang terasa tenang,
dan di ujungnya ada cahaya hangat yang menyambutmu,
barangkali itu aku
yang telah lama belajar sabar,
yang telah lama percaya,
bahwa yang ditulis untuk bertemu tak akan pernah hilang di tengah.

Maka, untukmu yang mungkin diam-diam juga menyimpan tanya,
semoga langkahmu selalu diberi kemudahan,
jalurmu dijaga dari sesat,
dan jika memang kita dua arah yang menuju satu tujuan,
semoga Allah satukan kita di persimpangan yang paling indah.
Bukan karena kita mencari,
tapi karena Allah yang mempertemukan.

Komentar

Postingan Populer